Death adder
Acanthophis antarcticus
Famili :
|
Elapidae
|
Genus :
|
Acanthophis
|
Spesies :
|
A.antarticus
|
Taring :
|
Ophistoglypha
|
Racun :
|
Tinggi
|
Reproduksi :
|
Ovipar (bertelur)
|
Size max :
|
100CM
|
Penemu :
|
F.M.daudin, 1803
|
Penyebaran
Death adder atau penyebab kematian, dengan nama ini sudah sangatlah jelas bahwa ular bergenus Acanthophis ini memiliki bisah yang sangat luar bisa. Ular ini menyebar di beberapa wilayah Australia dan papua (Indonesia) dan ada juga spesimen yang mirip dengan death adder yang berasal dari daratan Eropa.
Perilaku
Tidak seperti keluarga Elapid lainnya, ular ini lebih cendrung menunggu mangsanya dengan berbekalan ekor yang serupa dengan cacing dan menggerak-gerakan ekornya untuk menipu para manggasa yang melintas. Death adder ini hampir mirip dengan ular Gibug atau C.rhodostoma akan tetapi memiliki beberapa perbedaan secara fisik.
Makanan
Ular ini memangsa segala sesuatu yang hinggap di depannya, mulai dari katak, kadal, unggas dan beberapa hewan pengerat lainnya.
Ekology
Ular ini membutuhkan waktu 2-3 tahun untuk mencapai usia dewasa. Ular betina lebih besar daripada ular jantan. Ular ini bisa dibedakan dengan senawan yang lain karena ular ini memiliki ekor berbentuk seperti cacing. Fungsinya untuk memancing mangsa agar tidak takut mendekat. Tubuhnya berwarna dasar cokelat kelabu dengan belang-belang berwarna pucat, terkadang cokelat kemerahan atau abu-abu dengan belang-belang berwarna oranye pucat dan putih.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar