Ular Dipong
Python Brongersmai

dipong by chimaru reptile

Famili             :
Pythonidae
Genus            :
Python
Spesies          :
P. brongersmai
Taring            :
Aglypha
Racun            :
Tidak berbisa
Reproduksi  :
Ovipar (bertelur)
Size max       :
160CM
Penemu        :
Stull, 1938
















Penyebaran
Ular dipong atau sanca darah yakni ular yang berasal dari pulau sumatra bagian barat indonesia yang meliputi bangka belitung dan sekitarnya. Ada pula dengan jenis dipong lainnya yang tersebar dipulau sumatra dan kalimantan (borneo).

Karakteritas
Ular dipong atau sanca dara memiliki beberapa nama sebutan yakni ular gendang dan sanca bogel. Karena terlihat dari bentuk tubuhnya yang gemuk dan pendek dan sukar ditemukan sedang melingkar ditempat yang lembab. Ular sanca jenis ini tergolong agresif dan mudah terpropokasi oleh panas yang dapat membuatnya menyerang.

Makanan
 Ular dipong memangsa mamalia pengerat seperti tikus dan sebagainya. Bahkan ia bisa memangsa seekor rusa atau kambing remaja.



Ular ini mempunyai 3 (tiga) lokality atau tiga jenis yang berbeda sesuai daerah penyebarannya. Yakni:
Ø  Sanca darah menyebar di vietnam, semenanjung malayan (termasuk singapura), Sumatra (bukitbarisan, riau, lingga dan bangka)
Ø  Sanca borneo ekor pendek menyebar diseluruh kalimantan.
Ø  Sanca sumatra ekor pendek menyebar diwilayah sumatra selatan.

Di imdonesia sendiri khusus-nya bagi para pecinta reptil mempunyai sebutan yang familiar untuk ketiga yakni red dipong(atas), caramel dipong(tengah), dan black dipong(bawah). Ular dipong tidak berbisa (non venom) karena tidak mempunyai saluran taring bisa pada mulutnya. Maka dari itu banyak pecinta reptil yang memeliharanya sebagai hewan timangan dirumah. Selain mudah untuk dipelihara, ular ini sangat kuat dan jarang untuk terkena penyakit. Walaupun ular dipong tidak berbisa bukan berarti kita bebas memegangnya tanpa rasa waspada karena sifat atau karakter hewan ini bisa dibilang sangat labil. Dan hindari rokok anda saat memegang ular dipong karena dipong sangatlah sensitif terhadap radiasi panas.


Reproduksi
Dipong bereproduksi saat musim penghujan dengan cara ovipar (bertelur). Induk betina akan mengerami telurnya selama proses inkubasi dan akan menggesekkan tubuh pada telur-telurnya agar suhu hangat pada telurnya tetap terjaga. Setelah 60-97 hari bayi-bayi dipong akan menetas dengan panjang ukuran rata-rata 30cm. Ular dipong yang baru saja menetas akan merambat meninggalkan sarangnya untuk mencari tempat yang aman untuk beberapa hari sampai ia mengganti kulit untuk pertama kalinya. Setelah itu ia mulai mencari hewan pengerat kecil untuk diburuh sebagai mangsa pertama dalam hidupnya.

Tips And Trick
Tips/cara merawat dipong yang masih berukuran baby (baru menetas).

ü  Pertama anda harus mengetahui dan bertanya pada penjual dipong tersebut sudah lolos tes makan atau belum.
ü  Jika belum, diamkan dipong sampai beberapa hari didalam kandang dengan tanah sebagai alasnya kemudian berikan daun-daun kering agar baby dipong merasa nyaman. setelah baby dipong shedding atau ganti kulit 2 hari berikutnya anda mulai memberi makanan pertamanya yakni tikus putih berukuran baru disapi oleh induknya (jumper).
ü  Berikan dipong makan sebanyak 5hari sekali. Karena baby dipong sangatlah butuh makanan untuk pertumbuhan'nya.
ü  Karena dipong sangat mudah dehidrasi, sediakan tempat minum berikut airnya dan semprot bagian dalam kandang agar tetap terjaga kelembapan'nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar